}

Monday, 12 October 2020

MENTAL HEALTH

 

ESSAI MENTAL HEALTH

 

Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tenteram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Apabila kesehatan mental seseorang terganggu, ia akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang dapat mengarah pada perilaku buruk.

Banyak orang berpikir bahwa orang yang sehat adalah yang jarang sakit secara fisik. Namun perlu kita ketahui bahwa orang yang sehat adalah orang yang sehat dari kedua aspek yaitu jasmani dan rohaninya. Saya pernah mendengar bahwa ada pepatah mengatakan “di dalam tubuh yang sehat, tedapat jiwa yang kuat”

Masyarakat cenderung kurang atau bahkan tidak peduli dengan yang namanya mental illness atau mental health. Masyarakat masih beranggapan bahwa orang yang terkena gangguan mental atau mental illness dinilai sebagai orang yang tidak waras atau gila. Banyak orang takut harus menanggung hukuman sosial atau stigma yang diberikan masyarakat Indonesia kepada penderita gangguan mental karena beberapa orang menganggap pembicaraan tentang kesehatan mental sungguh memalukan atau tabu untuk dibicarakan. Sehingga kebanyakan penderita memilih tidak membeberkan masalah kejiwaan kepada keluarga terdekat.

Mental Health sangat penting bagi saya. Karena untuk menjalani aktivitas sehari-hari, dibutuhkan kesehatan baik dari fisik dan mental yang bagus. Terlebih lagi, kesehatan mental akan mempengaruhi cara kita berpikir dan bertingkah sampai ke hal yang paling kecil. Di zaman sekarang ini, masyarakat harus lebih peka dan aware terhadap mental health.

Banyak sekali penyebab kesehatan mental yang rentan, baik dari faktor internal maupun eksternal. . Penyebab eksternal juga tidak kalah penting. Contoh penyebab eksternal yang bisa mempengaruhi adalah lingkungan yang tidak bahagia di rumah maupun dalam lingkungan pertemanan. Kerap kali, gejala gangguan mental muncul tanpa disadari oleh penderita maupun lingkungan sekitarnya. Gejala gangguan kesehatan mental tak hanya cukup diamati secara kasat mata. Jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat, maka akan berakibat fatal pada kondisi psikologis seseorang.

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan apabila sudah mempunyai masalah kesehatan mental itu sendiri adalah dengan pergi ke psikolog. Menurut saya, mental health problem di sini bukan suatu penyakit yang bisa sembuh begitu diobati, itu adalah sebuah kondisi. Apabila seseorang sudah mempunyai masalah mental, yang mereka bisa lakukan hanyalah mencari tahu bagaimana membuat keadaan mental mereka stabil.

Selain itu, dari diri kita pun dapat membantu sesama dengan cara yang sederhana. Dengan cukup bicara kalau ada masalah dan mendengarkan orang lain yang mencurahkan isi hati dan pikiran atau bebannya kepada kita. Dengan mendengarkan dan menjadi tempat yang nyaman bagi mereka saat ingin bercerita, kita dapat menyadari bahwa orang tersebut butuh bantuan.

Dengan mengerti bahwa menjaga kesehatan mental baik diri sendiri maupun orang lain adalah penting, di sinilah kita akan semakin memahami dan menghargai orang lain dengan segala kekurangan dan masalah di dalam dirinya. Dan juga akan semakin mengerti apa yang mereka rasakan dan apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya.

Friday, 9 October 2020

MOTIVATION LETTER

 

ESSAI MOTIVATION LETTER

 

Halo, sudah lama sekali rasanya saya tidak mengunjungi blog saya ini. 5 tahun telah berlalu, dulu saya sempat mencoba untuk menulis dan menjadi blogger agar meraih keuntungan dari sana. Saya iseng-iseng untuk menulis tentang artikel-artikel yang berkaitan dengan islam, teknologi, dll. Saat itu saya duduk di kelas 1 atau 2 SMP di SMPN 12 TANGERANG.

Waktu sudah berlalu, saat ini saya sudah memasuki tahap dewasa. Saya sudah kuliah sekarang. Sebelumya saya ingin memperkenalkan diri, perkenalkan nama saya Muhammad Miftahul Amin Sumarno. Biasa di panggil Amif Saya mahasiswa baru  Universitas Brawijaya, Jurusan Ilmu Administrasi, Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis. Saya dilahirkan di Kota Tangerang pada tanggal 7 April 2002. Saat ini, saya menempuh di semester 1 di kampus saya.

Disini saya ingin bercerita bagaimana saya memotivasi diri saya dengan cara menerima, memahami dan menyayangi diri saya sendiri. Di mulai dari saya sejak kecil, saya termasuk orang yang tidak bisa diam dulunya. Selalu kemana-kemana, bandel, dan katanya si saya dijuluki anak “mahal” karena dulunya saya suka di manja-manjakan oleh keluarga saya, dituruti segala permintaan saya. Akan tetapi, di samping itu saya benar-benar anak yang mahal dalam konteks yang sebenarnya. Karena dulu waktu kecil saya orangnya suka sakit-sakitan, sering berobat kemana-mana, menghabiskan duit orang tua, membebankan orang tua, memusingkan orang tua, intinya seperti itu. Saya dulu sempat terkena penyakit flek, yang mengharuskan saya harus dirawat dirumah sakit beberapa bulan. Cerita ini disampaikan  kepada saya menjelang remaja dan selalu ingat sampai sekarang.

Waktu kecil juga saya suka mencari masalah dengan orang lain. Berkelahi sampai kadang guru pun melereikan saya. Sampai saya ingat, saya pernah mencari masalah dengan orang lain di sekitar komplek saya, dengan cara mencari perhatian terhadap anak-anak lain yang sedang menggunakan jalan raya. Dia pun merespon dan saya juga merespon balik dengan cela-celaan yang menurut saya waktu itu konyol sekali, karena masalah itu adalah masalah yang saya buat dan sebenarnya tidak perlu saya lakukan pada saat itu. Roti pun saya lempar ke dia, karena pada saat itu saya sedang memakan roti dengan teman teman saya. Akhirnya kami berkelahi di jalan, dijadikan tontonan warga dan saya pun akhirnya dipisahkan. Momen itu adalah momen kekonyolan saya di waktu remaja.

Seiring berjalannya waktu, Saya bisa mengenali diri saya di waktu remaja, saya anak yang pemalu kalau bisa dibilang. Tidak percaya diri terhadap kemampuan saya, dalam bidang akademik maupun nonakademik, fisik, ingin bisa menjadi orang lain semua hal itu saya lakukan. Saat itu saya belum mendengar di kuping saya istilah ‘self-love’.

Hari demi hari saya terus dan terus belajar tentang kehidupan, sampai dimana saya merasa kehidupan itu sangat penting kalau dipelajari. Saya bertemu dengan orang banyak, belajar tentang kehidupan, cara hidup mandiri, tidak merepotkan orang lain, belajar di internet, dll

Di usia saya yang sudah menginjak umur 18 tahun, saya adalah orang yang ingin terus belajar, bagaimana mengatur hidup saya dengan baik, bagaimana saya menyangi diri saya sendiri yang dulunya seperti itu, belajar memahami arti, sifat serta menerima diri saya sendiri.

Semua itu saya lakukan dengan berbagai cara, seperti berkaca pada cermin dan berbincang dengan diri saya (talk to my self), Ya, saya suka sering mengobrol dengan diri saya sendiri di kaca, mengobrol sendiri ( bertanya pada diri saya dan dijawab oleh saya sendiri ), dan saya suka menasihati diri saya kearah jalan yang benar atau me time, bagaimana seharusnya, mengambil keputusan yang sangat berhati-hati,dll. Sebagai laki-laki, saya pun juga pernah merasakan insecure. Entah itu dari segi pengetahuan, public speaking, keuangan, fisik, dll. Namun, disini saya ingin berusaha agar selalu menerima keadaan saya, belajar memaknai apa arti ‘self-love’ itu.

Saya mempunyai role model di dalam kehidupan ini, yaitu Iqbal Ramadhan. Saya termotivasi dari cara dia mempelajari self-love itu. Di dalam dirinya, dia mempunyai karakter/sifat satu-dua yang hampir sama dengan saya. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk mendalami karakter itu, bagaimana saya mengelolanya dengan baik, bagaimana yang harus saya lakukan, dll.

Dalam essay ini, saya menyimpulkan bahwa menerima diri sendiri, menyayangi diri sendiri, memahami diri sendiri adalah suatu unsur sangat penting dalam menjalani hidup saya. Seperti bersyukur terhadap apa yang saya punya, termotivasi agar bisa menjadi orang yang mempunyai potensi yang lebih dari orang lain dan menyayangi diri saya sepenuhnya. Berani bilang ‘tidak’ untuk kebaikan diri kita sendiri. Saya rasa kita harus egois demi kebaikan diri kita sendiri, tetapi bukan egois dalam konteks “mementingkan diri kita sendiri” yang menyakiti, menghina orang lain tanpa memikirkan kepentingan bersama.

Mencintai diri sendiri bisa dengan memberikan ruang untuk mengekspresikan diri terhadap apa yang selama ini dipendam. Kita harus melakukan itu agar kita bahagia. Tidak menjadi beban dan tidak stress.

Menghargai semua hal yang terkait dengan diri kita sendiri baik itu fisik, akal, dan hati adalah senjata saya untuk melanjutkan perjalanan  di masa ini sampai masa depan nanti.